BerandaNewsTubuh Cepat Lelah Setelah Meeting Seharian, Ini yang Mungkin Terjadi

Tubuh Cepat Lelah Setelah Meeting Seharian, Ini yang Mungkin Terjadi

Tubuh cepat lelah setelah meeting seharian bukan sekadar perasaan biasa. Kondisi ini sering muncul karena otak terus bekerja memproses informasi, mengambil keputusan, menjaga perhatian, dan menahan respons emosional dalam waktu panjang. Akibatnya, energi mental turun, fokus melemah, dan tubuh ikut terasa berat meski aktivitas fisik tidak terlalu banyak. Fenomena ini makin relevan di lingkungan kerja modern yang dipenuhi rapat beruntun, notifikasi, dan tuntutan respons cepat.

Di banyak kantor, kelelahan setelah rapat bukan lagi keluhan kecil. Laporan Microsoft pada 17 Juni 2025 menunjukkan rata rata pekerja menerima 117 email dan 153 pesan Teams per hari. Dalam ritme kerja seperti itu, karyawan juga mengalami interupsi setiap dua menit, atau sekitar 275 kali per hari. Saat rapat menumpuk di jam produktif, ruang untuk berpikir tenang makin sempit.

Masalahnya, kelelahan ini sering disalahartikan sebagai kurang stamina. Padahal, sumbernya kerap berasal dari beban kognitif. Harvard Business Review pada Februari 2025 menggambarkan bagaimana satu rapat yang terasa kacau bisa membuat seseorang sulit kembali fokus, bahkan sampai berjam jam setelah rapat selesai. Artinya, rapat tidak berhenti saat layar ditutup. Efeknya bisa terbawa ke tugas berikutnya.

Meeting Seharian Menguras Energi Mental

Saat rapat berlangsung, otak tidak hanya mendengar. Otak juga menilai informasi, membaca situasi sosial, menyusun respons, dan menjaga konsentrasi agar tidak tertinggal. Jika rapat berlangsung terus menerus, cadangan perhatian akan cepat habis.

Selain itu, banyak meeting menuntut orang untuk berpindah konteks dengan cepat. Satu jam membahas target penjualan, lalu berpindah ke evaluasi tim, lalu lanjut ke diskusi teknis. Perpindahan fokus seperti ini membuat otak bekerja lebih keras. Karena itu, tubuh cepat lelah setelah meeting seharian sering kali merupakan tanda bahwa energi mental sudah terkuras.

Beban ini menjadi lebih berat ketika rapat dilakukan secara virtual. Artikel MIT Sloan Management Review yang terbit pada Maret 2025 menegaskan bahwa kelelahan rapat virtual merupakan fenomena neurologis yang terukur. Riset berbasis pemantauan otak dan jantung menunjukkan panggilan video bisa lebih menguras dibanding pertemuan tatap muka.

Duduk Terlalu Lama Juga Ikut Berperan

Rapat maraton bukan hanya melelahkan secara mental. Duduk terlalu lama membuat tubuh kurang bergerak, sirkulasi darah melambat, dan otot menjadi tegang, terutama di leher, bahu, dan punggung. Karena itu, tubuh terasa pegal walau seharian hanya berada di kursi.

Di sisi lain, kurang gerak membuat rasa lesu datang lebih cepat. Ketika rapat dilakukan beruntun tanpa jeda, tubuh tidak punya kesempatan untuk melakukan reset sederhana seperti berdiri, berjalan singkat, atau meregangkan otot. Akibatnya, rasa penat menumpuk dari jam ke jam.

Multitasking Saat Meeting Membuat Kondisi Lebih Buruk

Banyak orang mencoba bertahan dengan cara membuka email, membalas chat, atau mengerjakan dokumen saat meeting berlangsung. Strategi ini terlihat efisien, tetapi efeknya justru sebaliknya. Studi tahun 2025 di Computers in Human Behavior Reports menemukan bahwa multitasking selama videoconference meningkatkan beberapa dimensi kelelahan dan menurunkan performa tugas secara objektif. Penelitian itu juga menunjukkan multitasking tidak membuat orang merasa bekerja lebih baik.

Artinya, ketika seseorang merasa tubuh cepat lelah setelah meeting seharian, penyebabnya bisa jadi bukan jumlah rapat saja, tetapi juga kebiasaan memecah fokus di dalam rapat. Otak dipaksa menangani dua beban sekaligus, lalu hasil kerja ikut menurun.

Tanda yang Perlu Diperhatikan

Kelelahan setelah meeting biasanya muncul dalam bentuk yang cukup jelas. Kepala terasa penuh, mata cepat lelah, dan tubuh ingin rebahan meski hari kerja belum selesai. Sebagian orang juga menjadi lebih mudah tersinggung atau sulit menyusun kalimat saat harus berbicara lagi.

Selain itu, ada tanda yang lebih halus. Misalnya, butuh waktu lebih lama untuk mulai mengerjakan tugas, sering membaca ulang pesan yang sama, atau merasa kosong setelah rapat panjang. Jika pola ini muncul berulang, tubuh sedang memberi sinyal bahwa ritme kerja tidak lagi seimbang.

Cara Mengurangi Lelah Setelah Meeting

Langkah pertama adalah memberi jeda antarrapat, meski hanya 5 sampai 10 menit. Jeda singkat membantu otak menurunkan beban dan memberi tubuh kesempatan bergerak. Cara ini terlihat sederhana, tetapi sangat efektif untuk menjaga stamina di tengah hari kerja yang padat.

Berikutnya, hindari multitasking saat meeting. Fokus pada satu aktivitas justru membuat energi lebih hemat. Jika rapat tidak menuntut keterlibatan aktif, pertimbangkan untuk menolak, mempersingkat, atau meminta ringkasan hasil rapat.

Selain itu, perhatikan kebutuhan fisik dasar. Minum cukup air, ubah posisi duduk, dan berdiri secara berkala dapat menurunkan rasa lesu. Edukasi soal kebiasaan kerja sehat juga bisa dibaca lebih lanjut di poltekkeslampungselatan.org, terutama untuk memahami hubungan antara aktivitas harian, postur, dan daya tahan tubuh.

Tubuh yang terasa habis setelah meeting seharian bukan tanda lemah, melainkan sinyal bahwa cara kerja modern sering menekan otak dan tubuh secara bersamaan. Di tengah budaya rapat yang makin padat, kemampuan menjaga jeda, membatasi distraksi, dan memberi ruang pemulihan justru menjadi bagian penting dari kesehatan. Bekerja efektif tidak selalu berarti hadir di lebih banyak meeting, tetapi tahu kapan tubuh dan pikiran perlu berhenti sejenak agar tetap berfungsi dengan baik.

Baca Juga

Sedang Trending

Konten Menarik