Kebiasaan menelusuri berita buruk secara terus-menerus di layar ponsel telah menjadi fenomena yang mengkhawatirkan bagi kesehatan psikologis. Istilah doomscrolling menggambarkan kondisi ketika seseorang tidak mampu berhenti mengonsumsi informasi negatif, mulai dari tragedi kemanusiaan hingga krisis ekonomi global. Meski niat awalnya adalah untuk tetap mendapatkan informasi terbaru, perilaku ini justru menjebak otak dalam mode waspada yang melelahkan dan memicu rasa cemas yang berkepanjangan.
Secara biologis, paparan informasi negatif yang intens merangsang pelepasan hormon kortisol atau hormon stres secara berlebihan. Kondisi ini membuat sistem saraf tetap berada dalam posisi “lawan atau lari” meskipun tidak ada ancaman fisik yang nyata di sekitar kita. Dampak jangka pendeknya sering kali berupa gangguan kecemasan dan kesulitan untuk fokus pada pekerjaan. Jika dibiarkan dalam waktu lama, kebiasaan ini dapat berkembang menjadi kelelahan emosional yang memicu depresi serta pandangan dunia yang cenderung pesimistis.
Algoritma platform saat ini memang dirancang untuk menyajikan konten yang memicu reaksi emosional kuat agar pengguna tetap bertahan di aplikasi. Masalahnya, emosi negatif seperti ketakutan atau kemarahan jauh lebih efektif dalam mengikat perhatian dibandingkan berita positif. Akibatnya, tanpa sadar kita sering kali terseret ke dalam lubang informasi yang semakin kelam setiap detiknya. Menyadari pola kerja teknologi ini merupakan langkah pertama yang krusial untuk memutus rantai ketergantungan pada narasi-narasi yang merusak mental tersebut.
Memahami Efek Domino pada Tubuh
Selain memengaruhi suasana hati, kebiasaan ini juga berdampak buruk pada kualitas istirahat di malam hari. Cahaya biru dari layar dan stimulasi informasi negatif sebelum tidur menghambat produksi melatonin, sehingga tubuh sulit mencapai fase tidur yang dalam. Kurangnya waktu istirahat yang berkualitas membuat seseorang lebih rentan terhadap stres di keesokan harinya, menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus. Kesehatan fisik pun perlahan ikut menurun seiring dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh akibat tekanan pikiran.
Penting untuk dipahami bahwa tubuh manusia tidak dirancang untuk memproses tragedi global dalam skala besar secara terus-menerus setiap hari. Sebagaimana dikutip dari ulasan kesehatan di poltekkesmuntokkota.org, menjaga asupan informasi sama pentingnya dengan menjaga asupan nutrisi bagi tubuh agar terhindar dari penyakit degeneratif maupun gangguan psikis. Ketidakseimbangan informasi yang masuk dapat mengganggu stabilitas emosi yang pada akhirnya berdampak pada produktivitas harian dan kualitas interaksi sosial dengan orang-orang terdekat.
Strategi Praktis Menghentikan Kebiasaan
Langkah paling efektif untuk menghentikan kebiasaan ini adalah dengan menetapkan batas waktu penggunaan aplikasi berita atau media sosial. Sebagian besar ponsel pintar sekarang sudah memiliki fitur pembatas durasi aplikasi yang bisa mengunci akses setelah kuota waktu harian habis. Anda juga bisa mencoba teknik mengganti perangkat dengan benda fisik saat merasa bosan, seperti menggenggam bola stres atau membaca majalah cetak. Hal ini membantu mengalihkan impuls jari yang biasanya langsung melakukan gerakan menggulir layar secara otomatis.
Cara lainnya adalah dengan menerapkan aturan “tanpa ponsel” satu jam sebelum tidur dan satu jam setelah bangun pagi. Waktu-waktu kritis ini sangat menentukan bagaimana kondisi mental Anda sepanjang hari. Gunakan waktu tersebut untuk melakukan meditasi ringan, menulis jurnal, atau sekadar menikmati secangkir kopi tanpa gangguan notifikasi. Dengan memberikan ruang bagi pikiran untuk bernapas tanpa distraksi, Anda sedang melatih otak untuk kembali tenang dan terkendali.
Mengonsumsi informasi adalah kebutuhan, namun menjaga kewarasan adalah keharusan yang tidak bisa ditawar. Dunia memang tidak selalu baik-baik saja, tetapi mengorbankan ketenangan batin dengan terus menyerap kabar buruk tidak akan mengubah keadaan menjadi lebih baik. Memilih untuk berhenti sejenak dan kembali ke realita di sekitar kita adalah langkah paling berani untuk menjaga kesehatan mental di tengah hiruk-pikuk informasi digital.